Loading...
Kamis, 14 Agustus 2014

Penjara Suci


Namaku Iqbal,Muhammad Iqbal Al-Jurjani.Entah apa artinya akupun enggan menanyakan kepada orang tuaku.Tapi yang kuketahui nama itu sangat bernuansa agama Islam.Dan kata guruku agama,namaku sangatlah indah.Pepatah mengatakan “Namamu adalah cerminan dari dirimu “ .Namun kenyataan cerminan diriku tak seindah namaku.Urakan, suka mabuk, ikut gangster, suka dugem,suka tawuran dan masih banyak lagi kenakalan yang pernah aku lakukan hingga teman-temanku menyebutku “Si Langganan BK”.Ya….sekarang aku duduk dikelas XII di salah satu SMA terfavorit di Bandung yang terkenal dengan guru BK nya sangat galak.
Tapi aku tak pernah takut ketika namaku dipanggil, karena aku tidak takut sama siapapun,termasuk dengan ayahku.Aku merasa berbicara dengan orang asing ketika ayah mengajakku berbicara,karena ia sangat jarang berada dirumah.Ayah tak pernah lelah bila sudah berurusan dengan uang.Mungkin karena Ayahlah aku sekarang seperti ini,kurangnya kasih sayang dan perhatiannya membuatku untuk mencari perhatian dan kasih sayang diluar sana.Terlebih semenjak mamaku meninggal dan statusku yang hanya anak tunggal dan hidup dalam kemewahan semakin membuatku bersemangat untuk berbuat hal-hal negative lainnya.Mungkin bagi ayah dan semua orang, uang akan membawa kebahagiaan. Namun bagiku uang hanyalah pembawa sial dan kesengsaraan hidupku.
@@M@@
            Malam ini tak seperti biasanya.Tumben sekali ayah ada di ruang keluarga saat aku pulang sekolah.Akupun tak menggubrisnya, dengan berpura-pura tidak tahu aku berjalan menuju kamarku.Tapi suara ayah menghentikan langkahku.
            “Iqbal, sini sebentar nak !!”Pinta ayahku lembut.Deg !!! hatiku berdetak cepat, sudah lama ayah tak memanggilku dengan panggilan “Nak”.
            “Iqbal capek yah, besok saja lah.Aku mau istirahat”Jawabku jutek.
            “Sebentar saja !! ayah hanya butuh 5 menit” Lanjut ayahku memohon.Dengan terpaksa aku duduk didekat mereka,melihat tingkah lakunya sepertinya ada yang tidak beres.
            “Bagaimana dengan ujian nasionalmu nak?” Tanya ayahku membuka pembicaraan
            “emm, susah banget lah.Apalagi buat anak tak berakal  sepertiku “ Jawabku singkat, dalam hati aku bergumam “Tumben sekali nanyain tentang sekolahku,biasanya aja acuh”.
            “Masih suka ngelanggar peraturan sekolah?” Lanjutnya.
            “Kalau itu sih wajib, kan udah makanan tiap hari” Ujarku. Ayah hanya menghela nafas mendengar jawabanku. “Sudahkan wawancaranya, aku capek” Ucapku sambil berjalan menuju kekamarku. “Ayah akan menyekolahkanmu di Perancis !!” Kata ayahku.Akupun menghentikan langkahku, “Apa?” Tanyaku untuk memperjelas. “Kamu akan ayah kuliahkan di Perancis” Ucap ayahku jelas.”Bohong !!!! bukannya ayah nggak ngizinin aku kuliah disana?” Bantahku.Tiba-tiba ayah mengeluarkan selembar kertas, “Ini tiket nya, kamu akan berangkat besok”Ucap ayah sambil menyodorkan kertas itu.Akupun melihatnya,dan memang benar itu adalah tiket pesawat ke Perancis. “Ayah capek ngurusin kenakalan kamu disini, jadi ayah pikir dengan menuruti keinginanmu bersekolah disana akan merubah sikap kamu yang badung ini” Jelas ayah.Aku tak bisa berkata apa-apa, rasanya ini seperti mimpi,tapi mimpi ini akan menjadi sebuah kenyataan.Akhirnya mimpiku kuliah di Perancis akan terwujud.
@@M@@
            Pagipun tiba, suara burung berkicau merdu.Akupun masih terlelap dalam tidurku, hingga suara ketukan pintu membuatku terbangun dan suara ayah terdengar dari luar.
            “Iqbal, bangun nak.Cepet mandi dan siap-siap.Jam 8 kita sudah berangkat” Ucap ayah keras. “Iya yah “ Jawabku sambil masih dalam keadaan mata terpejam.Dengan langkah gontai aku menuju kamar mandi.
            Tepat pukul 7 aku sudah siap.Aku segera turun untuk sarapan dengan ayah.Ayah juga sudah berpakaian rapi dan siap mengantarku ke bandara.Tapi penampian ayah berbeda, tak biasanya ia memakai baju koko.
            “Kok pake baju koko yah?” Tanyaku heran. “Eh,, i..iya nak hanya  tinggal ini yang bersih”Jawabnya.”Oh” sambungku.Kamipun mempercepat sarapannya, karena perjalanan kami begitu jauh.Karena penerbangan di Bandung lagi masa perbaikan kami memutuskan untuk menggunakan penerbangan di Surabaya.Butuh satu hari perjalanan untuk sampai disana.
            Saking senangnya, aku sampai lupa belum mengucapkan salam perpisahan kepada 2 sobat karibku, Irfan dan Bayu.Dengan segera aku nge-BBM mereka:
Woy sob…gua lagi otw Perancis nie.Sorry gk pamit langsung ke kalian J
Langsung aku pencet tombol send.Selang   beberapa menit ada balasan dari Irfan.
Oke boss, sukses aja and moga jadi manusia sesungguhnya J
            Setelah membaca balasan dari Irfan aku bergumam dalam hati “Dasar nih bocah, emang sekarang gua bukan manusia apa?”.Habis itu Bayu menyusul :
Wah..tega loe sob, ntar gk ada lagi yang nraktir dikantin.perpisahan aja belom,masa udah maen kabuur aja.
            Aku pun cekikikan sendiri membaca balasan Bayu, dasar anak orang kaya tapi nggak mau kalau yang namanya ngeluarin duit di kantin, hufftt.
@@M@@
            Jam menunjukkan pukul 16:00, aku pun baru bangun dari tidurku karena perjalanan begitu melelahkan.Kami baru sampai di daerah Kota Ponorogo,kota yang terkenal dengan tradisi reognya.Aku memandang ayahku,kulihat ia tengah menikmati pemandangan di sisi kanan dan kiri jalan.Tepat di lampu merah kami berhenti, ternyata suasana saat lampu merah sama saja di kota ku, banyak pedagang asongan yan menjajakan dagangannya.Dan kulihat tulisan penunjuk jalan diseberang yang bertuliskan Surabaya 245 KM arah ke timur,huft..masih amat sangat jauh.Lampu telah berganti hijau,mobil kamipun melaju kembali.Namun bukan ke arah utara , tapi ke arah selatan yang bertuliskan Pondok Pesantren Miftakhul Huda 4 KM.
            “Loh, bukannya arah Surabaya itu ke utara ya pak?” Tanyaku ke pak sopir.“Kita lewat jalan pintas den“Jawab nya. “Oh” Gumamku.”Tau dari mana kamu, kalo Surabaya ke utara?”Tanya ayahku. ‘Penunjuk jalan” Jawabku singkat.Ayah terdiam dan suasana kembali hening.
            Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 4 KM dari lampu merah tadi, tiba-tiba mobil kami memasuki sebuah Pondok Pesantren yang cukup besar dan berhenti disana. Akupun mulai bertanya-tanya, “Loh, inikan nama pondok yang dipenunjuk jalan tadi,ngapain berhenti disini yah?”Tanyaku.”Kamu akan sekolah disini”Jawab ayah.”Hah” Jawaban ayah begitu membuatku tercengang. “Maksud ayah apa-apaan nih? Kata ayah aku mau ke Perancis?” Ungkapku dengan nada keras. “Kamu pikir ayah akan menuruti keinginanmu? hah? ayah nggak jamin apa yang akan terjadi bila kamu sekolah disana”Jelas ayahku panjang lebar. “Apa ini yang ayah mau, ayah tiba-tiba datang dan mencampuri urusan pendidikanku? Ini bukan masa depanku yah” Akupun mulai marah. “Tapi masa depanmu ayah yang menentukan, cepat keluar dan kita akan sowan1 ke pengasuh pondok” Ajak ayah. “Nggak mau!!!”Kataku. “Iqbal !! Ayah sudah capek. Tolong turuti permintaan ayah sekali ini saja.Ayah akan bangga jika kamu punya ilmu agama”Pinta ayahku melas. “Disini kamu akan ada yang merhatiin, jadi ayah nggak khawatir tentang kamu bila ayah harus bekerja di luar kota” Sambung ayahku.Melihat wajah ayah yang begitu kasian akupun menuruti keinginannya.Hatiku tak tega bila sudah melihat ayah memohon kepadaku, akupun berjalan dibelakang beliau.Suasana pesantren begitu hening, karena para santri sedang melakukan sekolah diniyah.Sambil berjalan menuju ndalem 2 pengasuh, akupun melihat sekeliling pondok.”Masih bagusan juga sekolahku”Gumamku dalam hati.
            Setelah berjalan 5 menit, kami tiba disebuah rumah yang begitu sederhana, luasnya kira-kira seperempat dari rumahku.Didepannya terdapat taman kecil yang berisi tanaman hias, nampak seorang laki-laki seusiaku sedang menyiraminya.Dengan lembut ayah mengucapkan salam kepadanya.”Assalamualaikum kang 3, Abi 4 nya ada?”.Laki-laki itu kaget, dengan segera ia meletakkan selangnya dan menghampiri kami, “Waalaikumsalam, ada pak, mari pak silahkan masuk” Jawabnya.Laki-laki itu begitu sopan mempersilahkan kami masuk.”Apa seperti ini anak idaman ayah” Kataku dalam hati.Kamipun mengikuti laki-laki itu.”Silahkan duduk pak,mas.Sebentar saya panggilkan abah dulu”Katanya.”Iya kang, terimakasih” Ucap ayahku.Laki-laki itu tersenyum dan berlalu.Aku melihat sekeliling ruang tamu,tak ada yang menarik disana.Hanya ada almari yang berisi kitab-kitab kuning dan ada beberapa lukisan ulama zaman dahulu yang menempel di dinding.
            Tak berapa lama,datanglah seorang bapak-bapak seusia ayahku dengan mengenakan sarung dan baju kokonya.Ya..beliaulah sang pengasuh pondok itu, Kyai Abdul Hamid.Beliau tersenyum kepada kami.”Assalamualaikum pak amrul, kaifa khaluk 5 ?”Ucap belia sambil menjabat tangan ayahku.”waalaikum salam pak kyai, alhamdullilah bikhoir  6”Jawab ayahku.Entah istilah apa yang mereka gunakan, mereka terlihat sudah sangat akrab.Kemudian beliau menjabat tanganku setelah ayahku memperkenalku kepada beliau.
            Kemudian ayahku menyampaikan niatnya datang kesana.Akupun tidak begitu faham dengan pembicaraan mereka yang bercampur-campur dengan bahasa arab.Dalam fikiranku aku hanya memikirkan bagaimana caranya melarikan diri dari sana.Akupun berniat menghubungi Irfan dan Bayu.Tapi kuurungkan niatku, pasti mereka hanya tertawa dan mengejekku bila mereka tau kalau aku dimasukkan di pesantren.
            Setelah merasa cukup, ayah meminta pamit untuk pulang.Hatiku mulai lega.Tapi kelegaan hatiku menghilng ketika ayahku berkata sambil mengelus kepalaku, “Baik-baik disini ya nak ! Ayah janji akan sering menjengukmu “.Kemudian ayah mengajakku berjabat tangan, dengan berat aku menjabat tangannya dan menciumnya.Rasanya begitu aneh, karena ini pertama kalinya aku berjabat dan mencium tangan ayahku.Perlahan ayah berjalan keluar menuju mobil.Tak terasa akupun meneteskan air mata melihat kepergian ayah.Melihat ayah yang menghilang diperbelokan,akupun berteriak dan mengejar ayah. “Ayah… jangan tinggalin Iqbal”.Ayahapun terhenti saat akan membuka pintu mobil, akupun memeluk beliau.”Ayah..Iqbal nggak mau disini.Iqbal janji nggak akan tawuran,mabuk-mabukkan,dugem lagi.Iqbal akan jadi anak yang nurut ayah” Pintaku sambil terisak. “Maafin ayah nak, tapi ini yang terbaik untuk kamu” Kata ayah yang juga mulai meneteskan air mata.Kemudian ayah melepaskan pelukanku.Tiba-tiba kedua tanganku dipegang oleh dua orang pengurus pondok.Mobil ayah melaju meninggalkan pondok.Tangiskupun makin menjadi-jadi.”Begitu tegakah ayah kepadaku?’Teriakku. Tetapi perlahan tangisku terhenti saat aku menyadari ada 3 orang santri yang  lewat dan menertawakanku.Akupun langsung menyeka air mataku dan menghentikan tingkah lakuku yang begiu kekanak-kanakan.
@@M@@
            Keesokan harinya aku sudah mengikuti kegiatan pondok, karena aku sudah resmi menjadi santriwan di pondok itu.Bagaikan petir yang menyambar di musim kemarau, meskipun tak mungkin namun kenyataannya memang terjadi.Nyuci baju sendiri,makan dengan lauk seadanya,harus hafalan,nggak boleh bawa hp,nggak ada cewek,harus rajin sholat,apa-apa serba antri.Wuaaaaaa…pantas saja kebanyakan dari santriwan disana menyebutnya ini sebagai hidup di penjara, tapi bedanya ini di penjara suci.Bagi orang yang modal keimanannya sangat minim sepertiku,kehidupan di pesantren merupakan penyiksaan dan pengasingan,apalagi ditambah hal-hal yang tak biasa kukerjakan.”Hufttt, tabahkan hatimu Iqbal” Keluhku dalam hati.
            Dua hari telah berlalu, disana aku diperlakukan baik oleh teman-teman dan para pengurus.Tapi aku belum begitu banyak mempunyai teman, tapi ada 1 teman yang sangat dekat denganku, yakni kang Asep.Abdi ndalem 7 yang waktu itu menyambut aku dan ayah.Diapun mengajakku tiap kali ia mau pergi, termasuk membatu bersih-bersih dan menyirami tanaman di ndalem.Dia juga sangat sabar ketika mengajariku membaca kitab kuning,ngaji dan sholat.Padahal aku sering beralasan ketika ia menyuruhku untuk belajar, capeklah,sakitlah,ngantuklah dan masih banyak alasan lagi.
            Tepat di hari ke-4 aku mulai jenuh dengan kehidupan pesantren.Akupun berniat untuk kabur dari sana,setelah memikirkan matang-matang akupun mengemasi barangku.Tiba-tiba kang Asep datang dan mengagetkanku.”Hayoo,…lagi ngapain Bal?,Kok nggak masuk diniyah?”Tanyanya.”Eh..Ka..kang ..A..sep.” Ucapku gugup. “Ini kang lagi beres-beres.Tadi males aja mau masuk, ngantuk banget soalnya”Sambungku.”Dasar, emang nggak ada apa alasan selain ngantuk?” Ujarnya sambil mengacak-acak rambutku. “He..he..he” akupun tersenyum nyengir. “Eh kang, sini aku bisikin sesuatu” Lanjutku lagi. “Bisikin apa?” tanyanya lagi. “Ah..udah sini telingamu” jawabku sambil menarik telinga kang Asep.Setelah melihat sekeliling tak ada orang, akupun menceritakan niatku untuk kabur.Setelah menceritakannya, kuharap kang Asep bisa membantuku.Namun justru sebaliknya, ia malah memarahiku habis-habisan dan menyeretku ke ndalem Abah.
            Sesampai di ndalem, tepat sekali kulihat Abah sedang duduk di teras.Akupun berusaha melepaskan genggaman tanganku, namun kang Asep terlalu erat.Akhirnya akupun pasrah. “Assalamualaikum bah “ Ucapnya sambil membungkukkan badan.”Waalaikumsalam, ada apa Sep,Bal? Kok kelihatannya tergesa-gesa sekali?” Tanya Abah. “Ini, saya mau melaporkan kalau Iqbal berancana mau kabur dari pondok” Jawabnya agak gugup. Mendengar penjelasan Kang Asep, Abah agak kaget.Melihat ekspresinya akupun menundukkan kepalaku.Baru kali ini jantunku merasa hampir copot ketika berhadapan dengan seseorang.Sambil memegang tasbihnya beliau bertanya, “Apa benar itu Iqbal?”.Dengan takut aku menjawab “I…i..iya bah”.Kemudian beliau menghela nafas panjang.”Ayahmu memintaku untuk mendidikmu, sifatmu sama seperti ayahmu ketika dia pertama kali masuk pondok ini” Ucap Abah.Aku tercengang, “Apa Bi? Ayah dulu juga mondok disini?” Tanyaku.”Benar,tapi akhirnya ayahmu menjadi santri kesayangan ketika ayahku menjadi pengasuh disini.Sampai-sampai aku merasa iri kepadanya.”Lanjut beliau.”Tapi kenapa ayah nggak pernah cerita kesaya?” Gumamku pelan.”Karena dia malu dengan ilmu agama yang ia miliki dan tidak bisa mendidik anaknya dengan baik” .Mendengar penjalasan Abah, aku diam seribu bahasa.Ternyata kelakuanku selama ini begitu mengecewakan ayah.”Oleh karena itu Bal?, cobalah tinggal disini selama seminggu, seminggu berlalu cobalah satu bulan, dan seterusnya.Jalani hari demi hari seperti hari-harimu sebelum masuk pesantren” Nasehat Abah.Mendengar nasehat abah aku hanya mengangguk,begitu juga dengan kang Asep.Setelah itu kami mengakhirkan pembicaraan kami, karena Abah ada kepentingan.
            Saat perjalanan menuju kamar, kami bertemu dengan seorang gadis tengah berjalan dengan terburu-buru.Kang Asep pun menyapanya, “Assalamualaikum Neng  8”.Gadis itu berhenti, “Waalaikumsalam, eh kang Asep, Abah ada di rumah nggak?” Katanya. “Ada neng, tapi kayaknya tadi mau pergi.Baru saja kami dari sana” Jawab kang Asep.Akupun menatapnya,dan saat yang bersamaan gadis iu juga menatapku.Jantungku berdegup begitu kencang ketika melihat pancaran kecantikan dari matanya.Baru 3 detik menatap, tapi gadis itu mampu membuatku jatuh cinta kepadanya.Dengan segera gadis itu memalingkan wajahnya, “Astaghfirullah haladzim., ya sudah kang, makasih ya.Assalamualaikum” Ia pun kembali berjalan tergesa-gesa menuju ndalem.”Waalaikum salam” Kamipun menjawab salamnya bersamaan dan melanjutkan perjalanan. “Siapa gadis tadi kang? Cakep bener” Tanyaku pada kang Asep. “Tadi itu neng Zahra.Putrinya Abah” Jawab kang Asep. “Oh.Cantik ya kang” Kataku. “Pastinya” Sahutnya.Kamipun mempercepat langkah ketika mendengar adzan ashar berkumandang.
@@M@@
            Hari demi hari sudah kulalui dipesantren,kini tepat 1 bulan aku di pesantren. akupun mencoba trik yang diberikan Abah.Ternyata cukup mudah, meskipun kadang setan menggoyahkanku, namun aku berusaha untuk menghalaunya.Aku ingin membuktikan kepada ayah,kalau aku juga bisa seperti ayah.
            Hari ini hari jum’at,kalau dipesantren sekolah libur.Karena hari jum’at adalah harinya orang islam.Seperti biasa, kegiatanku di hari jum’at adalah bersih-bersih bersama santri lainnya dan nyuci.Meskipun belum terlalu bisa, tapi aku berusaha untuk nyuci sendiri, dulu waktu pertama kalinya bajuku aku laundrykan.Tapi peraturan pesantren melarang santri untuk melaundrykan pakaiannya, al hasil akupun sering terkena ta’ziran 9 membaca al-qur’an sambil berdiri didepan kantor.Tapi tak apalah, berkat itu aku mulai bisa mengeja huruf-huruf di dalam alqur-an.Dan hari ini aku bosan untuk itu, aku berniat mengakhirinya.Malu juga diliat para wali santri yang berkunjung, hehe J.
            Saat aku tengah sibuk menjemur pakaianku,telingaku juga sibuk mendengarkan suara dari kantor pengurus yang terdengar keras lewat speaker yang terpasang diujung kamar mandi.Sambil berharap namaku disebut oleh pengurus,entah dijenguk ataupun dapat paket dari ayahku.
            “Panggilan ditujukan kepada Muhammad Iqbal…”, suara itu menghentikan aktivitasku, sambil menahan nafas, aku menunggu kelanjutan nama yang dipanggil. “Panggilan ditujukan kepada Muhammad Iqbal Zainuddin ditunggu keluarganya diruang tamu”. Huftt. Akupun lemas seketika namaku bukan yang dipanggil.Dalam hati aku sedikit kecewa dengan ayah, padahal ia berjanji akan sering menjengukku tapi sebulan berlalu, tak ada telefon ataupun paket barang untukku.Sehabis menjemur akhirnya aku memutuskan beristirahat dibawah jemuran sambil melamun, melamunkan wajah Zahra.Jujur, aku tidak begitu tertarik dengan gadis pesantren, tapi Zahra mampu memikat hatiku.Tapi hatiku mulai gelisah jika teringat ucapan kang Asep, “Biasanya,Putri seorang pengasuh itu dijodohkan”.Tapi jauh dalam hati aku berharap, semoga Abah menjodohkan Zahra denganku. Hehehe J.
            Lamunanku terhenti ketika aku mendengar namaku di panggil lewat speaker, “Panggilan ditujukan kepada Muhammad Iqbal Al-Jurjani dari Bandung ditunggu keluarganya di ruang tamu”. Dengan berlari cepat aku menuju ruang tamu, akhirnya do’aku terkabulkan.Sesampai disana kulihat seorang bapak-bapak dengan kacamata hitam duduk didepan ruang tamu.Tak lain itu adalah ayahku.”Ayah…” Teriakku sambil memeluknya.Bulir air mata membasahi pipiku, begitu juga dengan ayah. “Maafkan ayah baru bisa menjenguk sekarang nak” Katanya.Akupun melepaskan pelukanku, “Aku tahu, ayah kan nggak rindu denganku” Ucapku sewot. “Siapa bilang, rumah jadi sepi saat nggak ada yang berulah”Sambung ayah.”oh,ya? Itu karma untuk ayah” Ledekku. “hemm,, gimana kegiatanmu disini nak?”Tanya ayah. “Semua nggak aku banget yah” jawabku.”Alhamdullillah kalau begitu, berarti kamu harus beradaptasi di lingkunganmu yang baru.Dan meninggalkan lingkunganmu yang lama” Sambungnya. “hemmmmmmmmmm..” aku menghela nafas panjang.Dan setelah itu kami terdiam cukup lama.
            “Ayah pikir kamu akan membenci ayah” Kata ayah membuka pembicaraan lagi.”Iqbal sadar yah,Iqbal telah banyak bikin ayah kecewa.Kenapa ayah nggak pernah cerita kalau ayah juga pernah sekolah disini? Iqbalpun juga sudah tahu jawabannya”.”Kamu sudah mengetahuinya nak?”. “Ya, Abah yang memberi tahuku”.”Dan sejak saat itu Iqbal bertekad akan menjadi anak yang baik dan membahagiakan ayah” Sambungku.Tangis ayah tak terbendung lagi, dia memelukku erat dan bersyukur kepada Allah.Sampai-sampai orang yang disekeliling kami juga ikut memperhatikan pembicaraan kami dan mereka ikut meneteskan air mata.
            Dan kini tekadku untuk belajar agama semakin kuat.Aku juga sudah mulai nyaman hidup dipesantren, terlebih ada penyemangatku yaitu Zahra.Meskipun perasaam ini tak mampu kuucapkan,tapi cukup memandangnya dari kejauhan sudah membuatku senang.
            “Terimakasih ya Allah telah membukakan pintu hatiku untuk mendekatkan diri kepadamu.” Ucapku dalam hati.
@@TAMAT@@




















Kamus Istilah
  1. Sowan : Berkunjung ke rumah pengasuh pondok guna minta do’a restu
  2. Ndalem : sebutan rumah pengasuh pondok dan juga saudara-saudaranya.
  3. Kang : Sebutan santri junior kepada santriwan senior atau untuk orang yang lebih dewasa/abdi ndalem.
  4. Kaifa Khaluk : menanyakan kabar dalam bahasa arab
  5. Alhamdulillah bi khoir: Jawaban atas kaifa khaluk (Alhmdulillah baik)
  6.  Abdi ndalem : Santri yang sudah lulus kemudian membantu segala keperluan di ndalem.
  7. Neng : sebutan santri kepada putri pengasuh pondok
  8. Ta’ziran : Hukuman dalam bahasa arab.



0 komentar:

Posting Komentar

 
TOP