Namaku
Iqbal,Muhammad Iqbal Al-Jurjani.Entah apa artinya akupun enggan menanyakan
kepada orang tuaku.Tapi yang kuketahui nama itu sangat bernuansa agama
Islam.Dan kata guruku agama,namaku sangatlah indah.Pepatah mengatakan “Namamu adalah cerminan dari dirimu “ .Namun
kenyataan cerminan diriku tak seindah namaku.Urakan, suka mabuk, ikut gangster,
suka dugem,suka tawuran dan masih banyak lagi kenakalan yang pernah aku lakukan
hingga teman-temanku menyebutku “Si Langganan BK”.Ya….sekarang aku duduk
dikelas XII di salah satu SMA terfavorit di Bandung yang terkenal dengan guru
BK nya sangat galak.
Tapi aku tak pernah takut ketika namaku dipanggil, karena
aku tidak takut sama siapapun,termasuk dengan ayahku.Aku merasa berbicara
dengan orang asing ketika ayah mengajakku berbicara,karena ia sangat jarang
berada dirumah.Ayah tak pernah lelah bila sudah berurusan dengan uang.Mungkin
karena Ayahlah aku sekarang seperti ini,kurangnya kasih sayang dan perhatiannya
membuatku untuk mencari perhatian dan kasih sayang diluar sana.Terlebih
semenjak mamaku meninggal dan statusku yang hanya anak tunggal dan hidup dalam
kemewahan semakin membuatku bersemangat untuk berbuat hal-hal negative
lainnya.Mungkin bagi ayah dan semua orang, uang akan membawa kebahagiaan. Namun
bagiku uang hanyalah pembawa sial dan kesengsaraan hidupku.
@@M@@
Malam
ini tak seperti biasanya.Tumben sekali ayah ada di ruang keluarga saat aku
pulang sekolah.Akupun tak menggubrisnya, dengan berpura-pura tidak tahu aku
berjalan menuju kamarku.Tapi suara ayah menghentikan langkahku.
“Iqbal,
sini sebentar nak !!”Pinta ayahku lembut.Deg !!! hatiku berdetak cepat, sudah
lama ayah tak memanggilku dengan panggilan “Nak”.
“Iqbal
capek yah, besok saja lah.Aku mau istirahat”Jawabku jutek.
“Sebentar
saja !! ayah hanya butuh 5 menit” Lanjut ayahku memohon.Dengan terpaksa aku
duduk didekat mereka,melihat tingkah lakunya sepertinya ada yang tidak beres.
“Bagaimana
dengan ujian nasionalmu nak?” Tanya ayahku membuka pembicaraan
“emm,
susah banget lah.Apalagi buat anak tak berakal
sepertiku “ Jawabku singkat, dalam hati aku bergumam “Tumben sekali nanyain tentang
sekolahku,biasanya aja acuh”.
“Masih suka ngelanggar peraturan
sekolah?” Lanjutnya.
“Kalau
itu sih wajib, kan udah makanan tiap hari” Ujarku. Ayah hanya menghela nafas
mendengar jawabanku. “Sudahkan wawancaranya, aku capek” Ucapku sambil berjalan
menuju kekamarku. “Ayah akan menyekolahkanmu di Perancis !!” Kata ayahku.Akupun
menghentikan langkahku, “Apa?” Tanyaku untuk memperjelas. “Kamu akan ayah
kuliahkan di Perancis” Ucap ayahku jelas.”Bohong !!!! bukannya ayah nggak
ngizinin aku kuliah disana?” Bantahku.Tiba-tiba ayah mengeluarkan selembar
kertas, “Ini tiket nya, kamu akan berangkat besok”Ucap ayah sambil menyodorkan
kertas itu.Akupun melihatnya,dan memang benar itu adalah tiket pesawat ke
Perancis. “Ayah capek ngurusin kenakalan kamu disini, jadi ayah pikir dengan
menuruti keinginanmu bersekolah disana akan merubah sikap kamu yang badung ini”
Jelas ayah.Aku tak bisa berkata apa-apa, rasanya ini seperti mimpi,tapi mimpi
ini akan menjadi sebuah kenyataan.Akhirnya mimpiku kuliah di Perancis akan
terwujud.
@@M@@
Pagipun
tiba, suara burung berkicau merdu.Akupun masih terlelap dalam tidurku, hingga
suara ketukan pintu membuatku terbangun dan suara ayah terdengar dari luar.
“Iqbal,
bangun nak.Cepet mandi dan siap-siap.Jam 8 kita sudah berangkat” Ucap ayah
keras. “Iya yah “ Jawabku sambil masih dalam keadaan mata terpejam.Dengan
langkah gontai aku menuju kamar mandi.
Tepat
pukul 7 aku sudah siap.Aku segera turun untuk sarapan dengan ayah.Ayah juga
sudah berpakaian rapi dan siap mengantarku ke bandara.Tapi penampian ayah
berbeda, tak biasanya ia memakai baju koko.
“Kok
pake baju koko yah?” Tanyaku heran. “Eh,, i..iya nak hanya tinggal ini yang bersih”Jawabnya.”Oh”
sambungku.Kamipun mempercepat sarapannya, karena perjalanan kami begitu
jauh.Karena penerbangan di Bandung lagi masa perbaikan kami memutuskan untuk
menggunakan penerbangan di Surabaya.Butuh satu hari perjalanan untuk sampai
disana.
Saking
senangnya, aku sampai lupa belum mengucapkan salam perpisahan kepada 2 sobat
karibku, Irfan dan Bayu.Dengan segera aku nge-BBM mereka:
Woy sob…gua
lagi otw Perancis nie.Sorry gk pamit langsung ke kalian J
Langsung aku
pencet tombol send.Selang beberapa
menit ada balasan dari Irfan.
Oke boss,
sukses aja and moga jadi manusia sesungguhnya J
Setelah
membaca balasan dari Irfan aku bergumam dalam hati “Dasar nih bocah, emang
sekarang gua bukan manusia apa?”.Habis itu Bayu menyusul :
Wah..tega loe
sob, ntar gk ada lagi yang nraktir dikantin.perpisahan aja belom,masa udah maen
kabuur aja.
Aku
pun cekikikan sendiri membaca balasan Bayu, dasar anak orang kaya tapi nggak
mau kalau yang namanya ngeluarin duit di kantin, hufftt.
@@M@@
Jam
menunjukkan pukul 16:00, aku pun baru bangun dari tidurku karena perjalanan
begitu melelahkan.Kami baru sampai di daerah Kota Ponorogo,kota yang terkenal
dengan tradisi reognya.Aku memandang ayahku,kulihat ia tengah menikmati
pemandangan di sisi kanan dan kiri jalan.Tepat di lampu merah kami berhenti,
ternyata suasana saat lampu merah sama saja di kota ku, banyak pedagang asongan
yan menjajakan dagangannya.Dan kulihat tulisan penunjuk jalan diseberang yang
bertuliskan Surabaya 245 KM arah ke timur,huft..masih amat sangat jauh.Lampu
telah berganti hijau,mobil kamipun melaju kembali.Namun bukan ke arah utara ,
tapi ke arah selatan yang bertuliskan Pondok Pesantren Miftakhul Huda 4 KM.
“Loh,
bukannya arah Surabaya itu ke utara ya pak?” Tanyaku ke pak sopir.“Kita lewat
jalan pintas den“Jawab nya. “Oh” Gumamku.”Tau dari mana kamu, kalo Surabaya ke
utara?”Tanya ayahku. ‘Penunjuk jalan” Jawabku singkat.Ayah terdiam dan suasana
kembali hening.
Setelah
melakukan perjalanan kurang lebih 4 KM dari lampu merah tadi, tiba-tiba mobil
kami memasuki sebuah Pondok Pesantren yang cukup besar dan berhenti disana.
Akupun mulai bertanya-tanya, “Loh, inikan nama pondok yang dipenunjuk jalan
tadi,ngapain berhenti disini yah?”Tanyaku.”Kamu akan sekolah disini”Jawab
ayah.”Hah” Jawaban ayah begitu membuatku tercengang. “Maksud ayah apa-apaan
nih? Kata ayah aku mau ke Perancis?” Ungkapku dengan nada keras. “Kamu pikir
ayah akan menuruti keinginanmu? hah? ayah nggak jamin apa yang akan terjadi
bila kamu sekolah disana”Jelas ayahku panjang lebar. “Apa ini yang ayah mau,
ayah tiba-tiba datang dan mencampuri urusan pendidikanku? Ini bukan masa
depanku yah” Akupun mulai marah. “Tapi masa depanmu ayah yang menentukan, cepat
keluar dan kita akan sowan1
ke pengasuh pondok” Ajak ayah. “Nggak mau!!!”Kataku. “Iqbal !! Ayah sudah capek.
Tolong turuti permintaan ayah sekali ini saja.Ayah akan bangga jika kamu punya
ilmu agama”Pinta ayahku melas. “Disini kamu akan ada yang merhatiin, jadi ayah
nggak khawatir tentang kamu bila ayah harus bekerja di luar kota” Sambung
ayahku.Melihat wajah ayah yang begitu kasian akupun menuruti keinginannya.Hatiku
tak tega bila sudah melihat ayah memohon kepadaku, akupun berjalan dibelakang
beliau.Suasana pesantren begitu hening, karena para santri sedang melakukan
sekolah diniyah.Sambil berjalan menuju ndalem
2 pengasuh, akupun melihat sekeliling pondok.”Masih bagusan juga
sekolahku”Gumamku dalam hati.
Setelah
berjalan 5 menit, kami tiba disebuah rumah yang begitu sederhana, luasnya
kira-kira seperempat dari rumahku.Didepannya terdapat taman kecil yang berisi
tanaman hias, nampak seorang laki-laki seusiaku sedang menyiraminya.Dengan
lembut ayah mengucapkan salam kepadanya.”Assalamualaikum kang 3, Abi 4
nya ada?”.Laki-laki itu kaget, dengan segera ia meletakkan selangnya dan
menghampiri kami, “Waalaikumsalam, ada pak, mari pak silahkan masuk”
Jawabnya.Laki-laki itu begitu sopan mempersilahkan kami masuk.”Apa seperti ini
anak idaman ayah” Kataku dalam hati.Kamipun mengikuti laki-laki itu.”Silahkan
duduk pak,mas.Sebentar saya panggilkan abah dulu”Katanya.”Iya kang,
terimakasih” Ucap ayahku.Laki-laki itu tersenyum dan berlalu.Aku melihat
sekeliling ruang tamu,tak ada yang menarik disana.Hanya ada almari yang berisi
kitab-kitab kuning dan ada beberapa lukisan ulama zaman dahulu yang menempel di
dinding.
Tak
berapa lama,datanglah seorang bapak-bapak seusia ayahku dengan mengenakan
sarung dan baju kokonya.Ya..beliaulah sang pengasuh pondok itu, Kyai Abdul
Hamid.Beliau tersenyum kepada kami.”Assalamualaikum pak amrul, kaifa khaluk 5 ?”Ucap belia
sambil menjabat tangan ayahku.”waalaikum salam pak kyai, alhamdullilah bikhoir 6”Jawab
ayahku.Entah istilah apa yang mereka gunakan, mereka terlihat sudah sangat
akrab.Kemudian beliau menjabat tanganku setelah ayahku memperkenalku kepada
beliau.
Kemudian
ayahku menyampaikan niatnya datang kesana.Akupun tidak begitu faham dengan
pembicaraan mereka yang bercampur-campur dengan bahasa arab.Dalam fikiranku aku
hanya memikirkan bagaimana caranya melarikan diri dari sana.Akupun berniat
menghubungi Irfan dan Bayu.Tapi kuurungkan niatku, pasti mereka hanya tertawa
dan mengejekku bila mereka tau kalau aku dimasukkan di pesantren.
Setelah
merasa cukup, ayah meminta pamit untuk pulang.Hatiku mulai lega.Tapi kelegaan
hatiku menghilng ketika ayahku berkata sambil mengelus kepalaku, “Baik-baik
disini ya nak ! Ayah janji akan sering menjengukmu “.Kemudian ayah mengajakku
berjabat tangan, dengan berat aku menjabat tangannya dan menciumnya.Rasanya
begitu aneh, karena ini pertama kalinya aku berjabat dan mencium tangan
ayahku.Perlahan ayah berjalan keluar menuju mobil.Tak terasa akupun meneteskan
air mata melihat kepergian ayah.Melihat ayah yang menghilang
diperbelokan,akupun berteriak dan mengejar ayah. “Ayah… jangan tinggalin
Iqbal”.Ayahapun terhenti saat akan membuka pintu mobil, akupun memeluk
beliau.”Ayah..Iqbal nggak mau disini.Iqbal janji nggak akan
tawuran,mabuk-mabukkan,dugem lagi.Iqbal akan jadi anak yang nurut ayah” Pintaku
sambil terisak. “Maafin ayah nak, tapi ini yang terbaik untuk kamu” Kata ayah
yang juga mulai meneteskan air mata.Kemudian ayah melepaskan
pelukanku.Tiba-tiba kedua tanganku dipegang oleh dua orang pengurus
pondok.Mobil ayah melaju meninggalkan pondok.Tangiskupun makin
menjadi-jadi.”Begitu tegakah ayah kepadaku?’Teriakku. Tetapi perlahan tangisku
terhenti saat aku menyadari ada 3 orang santri yang lewat dan menertawakanku.Akupun langsung
menyeka air mataku dan menghentikan tingkah lakuku yang begiu kekanak-kanakan.
@@M@@
Keesokan
harinya aku sudah mengikuti kegiatan pondok, karena aku sudah resmi menjadi
santriwan di pondok itu.Bagaikan petir yang menyambar di musim kemarau,
meskipun tak mungkin namun kenyataannya memang terjadi.Nyuci baju sendiri,makan
dengan lauk seadanya,harus hafalan,nggak boleh bawa hp,nggak ada cewek,harus
rajin sholat,apa-apa serba antri.Wuaaaaaa…pantas saja kebanyakan dari santriwan
disana menyebutnya ini sebagai hidup di penjara, tapi bedanya ini di penjara
suci.Bagi orang yang modal keimanannya sangat minim sepertiku,kehidupan di
pesantren merupakan penyiksaan dan pengasingan,apalagi ditambah hal-hal yang
tak biasa kukerjakan.”Hufttt, tabahkan hatimu Iqbal” Keluhku dalam hati.
Dua
hari telah berlalu, disana aku diperlakukan baik oleh teman-teman dan para
pengurus.Tapi aku belum begitu banyak mempunyai teman, tapi ada 1 teman yang
sangat dekat denganku, yakni kang Asep.Abdi
ndalem 7 yang waktu itu menyambut aku dan ayah.Diapun mengajakku
tiap kali ia mau pergi, termasuk membatu bersih-bersih dan menyirami tanaman di
ndalem.Dia juga sangat sabar ketika mengajariku membaca kitab kuning,ngaji dan
sholat.Padahal aku sering beralasan ketika ia menyuruhku untuk belajar,
capeklah,sakitlah,ngantuklah dan masih banyak alasan lagi.
Tepat
di hari ke-4 aku mulai jenuh dengan kehidupan pesantren.Akupun berniat untuk
kabur dari sana,setelah memikirkan matang-matang akupun mengemasi
barangku.Tiba-tiba kang Asep datang dan mengagetkanku.”Hayoo,…lagi ngapain
Bal?,Kok nggak masuk diniyah?”Tanyanya.”Eh..Ka..kang ..A..sep.” Ucapku gugup.
“Ini kang lagi beres-beres.Tadi males aja mau masuk, ngantuk banget soalnya”Sambungku.”Dasar,
emang nggak ada apa alasan selain ngantuk?” Ujarnya sambil mengacak-acak
rambutku. “He..he..he” akupun tersenyum nyengir. “Eh kang, sini aku bisikin
sesuatu” Lanjutku lagi. “Bisikin apa?” tanyanya lagi. “Ah..udah sini telingamu”
jawabku sambil menarik telinga kang Asep.Setelah melihat sekeliling tak ada
orang, akupun menceritakan niatku untuk kabur.Setelah menceritakannya, kuharap
kang Asep bisa membantuku.Namun justru sebaliknya, ia malah memarahiku
habis-habisan dan menyeretku ke ndalem Abah.
Sesampai
di ndalem, tepat sekali kulihat Abah sedang duduk di teras.Akupun berusaha
melepaskan genggaman tanganku, namun kang Asep terlalu erat.Akhirnya akupun
pasrah. “Assalamualaikum bah “ Ucapnya sambil membungkukkan
badan.”Waalaikumsalam, ada apa Sep,Bal? Kok kelihatannya tergesa-gesa sekali?”
Tanya Abah. “Ini, saya mau melaporkan kalau Iqbal berancana mau kabur dari
pondok” Jawabnya agak gugup. Mendengar penjelasan Kang Asep, Abah agak
kaget.Melihat ekspresinya akupun menundukkan kepalaku.Baru kali ini jantunku
merasa hampir copot ketika berhadapan dengan seseorang.Sambil memegang
tasbihnya beliau bertanya, “Apa benar itu Iqbal?”.Dengan takut aku menjawab
“I…i..iya bah”.Kemudian beliau menghela nafas panjang.”Ayahmu memintaku untuk
mendidikmu, sifatmu sama seperti ayahmu ketika dia pertama kali masuk pondok
ini” Ucap Abah.Aku tercengang, “Apa Bi? Ayah dulu juga mondok disini?”
Tanyaku.”Benar,tapi akhirnya ayahmu menjadi santri kesayangan ketika ayahku
menjadi pengasuh disini.Sampai-sampai aku merasa iri kepadanya.”Lanjut
beliau.”Tapi kenapa ayah nggak pernah cerita kesaya?” Gumamku pelan.”Karena dia
malu dengan ilmu agama yang ia miliki dan tidak bisa mendidik anaknya dengan
baik” .Mendengar penjalasan Abah, aku diam seribu bahasa.Ternyata kelakuanku
selama ini begitu mengecewakan ayah.”Oleh karena itu Bal?, cobalah tinggal
disini selama seminggu, seminggu berlalu cobalah satu bulan, dan
seterusnya.Jalani hari demi hari seperti hari-harimu sebelum masuk pesantren”
Nasehat Abah.Mendengar nasehat abah aku hanya mengangguk,begitu juga dengan
kang Asep.Setelah itu kami mengakhirkan pembicaraan kami, karena Abah ada
kepentingan.
Saat
perjalanan menuju kamar, kami bertemu dengan seorang gadis tengah berjalan
dengan terburu-buru.Kang Asep pun menyapanya, “Assalamualaikum Neng 8”.Gadis
itu berhenti, “Waalaikumsalam, eh kang Asep, Abah ada di rumah nggak?” Katanya.
“Ada neng, tapi kayaknya tadi mau pergi.Baru saja kami dari sana” Jawab kang
Asep.Akupun menatapnya,dan saat yang bersamaan gadis iu juga menatapku.Jantungku
berdegup begitu kencang ketika melihat pancaran kecantikan dari matanya.Baru 3
detik menatap, tapi gadis itu mampu membuatku jatuh cinta kepadanya.Dengan
segera gadis itu memalingkan wajahnya, “Astaghfirullah haladzim., ya sudah
kang, makasih ya.Assalamualaikum” Ia pun kembali berjalan tergesa-gesa menuju
ndalem.”Waalaikum salam” Kamipun menjawab salamnya bersamaan dan melanjutkan
perjalanan. “Siapa gadis tadi kang? Cakep bener” Tanyaku pada kang Asep. “Tadi
itu neng Zahra.Putrinya Abah” Jawab kang Asep. “Oh.Cantik ya kang” Kataku.
“Pastinya” Sahutnya.Kamipun mempercepat langkah ketika mendengar adzan ashar
berkumandang.
@@M@@
Hari
demi hari sudah kulalui dipesantren,kini tepat 1 bulan aku di pesantren. akupun
mencoba trik yang diberikan Abah.Ternyata cukup mudah, meskipun kadang setan
menggoyahkanku, namun aku berusaha untuk menghalaunya.Aku ingin membuktikan
kepada ayah,kalau aku juga bisa seperti ayah.
Hari
ini hari jum’at,kalau dipesantren sekolah libur.Karena hari jum’at adalah
harinya orang islam.Seperti biasa, kegiatanku di hari jum’at adalah
bersih-bersih bersama santri lainnya dan nyuci.Meskipun belum terlalu bisa,
tapi aku berusaha untuk nyuci sendiri, dulu waktu pertama kalinya bajuku aku
laundrykan.Tapi peraturan pesantren melarang santri untuk melaundrykan
pakaiannya, al hasil akupun sering terkena ta’ziran
9 membaca al-qur’an sambil berdiri didepan kantor.Tapi tak apalah,
berkat itu aku mulai bisa mengeja huruf-huruf di dalam alqur-an.Dan hari ini
aku bosan untuk itu, aku berniat mengakhirinya.Malu juga diliat para wali
santri yang berkunjung, hehe J.
Saat
aku tengah sibuk menjemur pakaianku,telingaku juga sibuk mendengarkan suara
dari kantor pengurus yang terdengar keras lewat speaker yang terpasang diujung
kamar mandi.Sambil berharap namaku disebut oleh pengurus,entah dijenguk ataupun
dapat paket dari ayahku.
“Panggilan ditujukan kepada Muhammad
Iqbal…”, suara itu menghentikan aktivitasku, sambil menahan nafas, aku
menunggu kelanjutan nama yang dipanggil. “Panggilan
ditujukan kepada Muhammad Iqbal Zainuddin ditunggu keluarganya diruang tamu”.
Huftt. Akupun lemas seketika namaku bukan yang dipanggil.Dalam hati aku sedikit
kecewa dengan ayah, padahal ia berjanji akan sering menjengukku tapi sebulan
berlalu, tak ada telefon ataupun paket barang untukku.Sehabis menjemur akhirnya
aku memutuskan beristirahat dibawah jemuran sambil melamun, melamunkan wajah
Zahra.Jujur, aku tidak begitu tertarik dengan gadis pesantren, tapi Zahra mampu
memikat hatiku.Tapi hatiku mulai gelisah jika teringat ucapan kang Asep, “Biasanya,Putri seorang pengasuh itu
dijodohkan”.Tapi jauh dalam hati aku berharap, semoga Abah menjodohkan
Zahra denganku. Hehehe J.
Lamunanku
terhenti ketika aku mendengar namaku di panggil lewat speaker, “Panggilan ditujukan kepada Muhammad Iqbal
Al-Jurjani dari Bandung ditunggu keluarganya di ruang tamu”. Dengan berlari
cepat aku menuju ruang tamu, akhirnya do’aku terkabulkan.Sesampai disana
kulihat seorang bapak-bapak dengan kacamata hitam duduk didepan ruang tamu.Tak
lain itu adalah ayahku.”Ayah…” Teriakku sambil memeluknya.Bulir air mata
membasahi pipiku, begitu juga dengan ayah. “Maafkan ayah baru bisa menjenguk
sekarang nak” Katanya.Akupun melepaskan pelukanku, “Aku tahu, ayah kan nggak
rindu denganku” Ucapku sewot. “Siapa bilang, rumah jadi sepi saat nggak ada
yang berulah”Sambung ayah.”oh,ya? Itu karma untuk ayah” Ledekku. “hemm,, gimana
kegiatanmu disini nak?”Tanya ayah. “Semua nggak aku banget yah”
jawabku.”Alhamdullillah kalau begitu, berarti kamu harus beradaptasi di lingkunganmu
yang baru.Dan meninggalkan lingkunganmu yang lama” Sambungnya. “hemmmmmmmmmm..”
aku menghela nafas panjang.Dan setelah itu kami terdiam cukup lama.
“Ayah
pikir kamu akan membenci ayah” Kata ayah membuka pembicaraan lagi.”Iqbal sadar
yah,Iqbal telah banyak bikin ayah kecewa.Kenapa ayah nggak pernah cerita kalau
ayah juga pernah sekolah disini? Iqbalpun juga sudah tahu jawabannya”.”Kamu
sudah mengetahuinya nak?”. “Ya, Abah yang memberi tahuku”.”Dan sejak saat itu
Iqbal bertekad akan menjadi anak yang baik dan membahagiakan ayah”
Sambungku.Tangis ayah tak terbendung lagi, dia memelukku erat dan bersyukur
kepada Allah.Sampai-sampai orang yang disekeliling kami juga ikut memperhatikan
pembicaraan kami dan mereka ikut meneteskan air mata.
Dan
kini tekadku untuk belajar agama semakin kuat.Aku juga sudah mulai nyaman hidup
dipesantren, terlebih ada penyemangatku yaitu Zahra.Meskipun perasaam ini tak
mampu kuucapkan,tapi cukup memandangnya dari kejauhan sudah membuatku senang.
“Terimakasih
ya Allah telah membukakan pintu hatiku untuk mendekatkan diri kepadamu.” Ucapku
dalam hati.
@@TAMAT@@
Kamus Istilah
- Sowan : Berkunjung ke
rumah pengasuh pondok guna minta do’a restu
- Ndalem : sebutan rumah
pengasuh pondok dan juga saudara-saudaranya.
- Kang : Sebutan santri
junior kepada santriwan senior atau untuk orang yang lebih dewasa/abdi
ndalem.
- Kaifa Khaluk :
menanyakan kabar dalam bahasa arab
- Alhamdulillah bi khoir:
Jawaban atas kaifa khaluk (Alhmdulillah baik)
- Abdi ndalem : Santri yang sudah lulus
kemudian membantu segala keperluan di ndalem.
- Neng : sebutan santri
kepada putri pengasuh pondok
- Ta’ziran : Hukuman dalam
bahasa arab.
0 komentar:
Posting Komentar